KONTAN.CO.ID - Pemerintah Indonesia menargetkan investasi tumbuh hingga 7% untuk menyokong target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6% pada 2027. Namun, tantangan terbesar adalah membangun dan menjaga kepercayaan investor agar modal yang telah masuk terus diinvestasikan kembali.
Saat ini potensi pasar tidak lagi menjadi faktor utama yang mendorong keputusan investasi. Investor juga mempertimbangkan berbagai faktor strategis seperti kepastian regulasi dan kemudahan perizinan, stabilitas ekonomi dan politik, serta kapabilitas suatu negara menciptakan iklim investasi yang kompetitif dan berkelanjutan. Ketidakpastian geopolitik, fragmentasi perdagangan, hingga pengetatan moneter global turut memengaruhi dinamika perputaran arus modal dunia.
ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja menegaskan pentingnya memperkuat kepercayaan investor. “Karena ketidakpastian meningkat, trust itu jadi turun. Nah, itu yang harus dibangun di Indonesia,” ujarnya dalam acara UOB Media Editors Circle di UOB Plaza, Jakarta, pada Selasa (15/9/2026). 
Membangun kepercayaan domestik
Di tengah dinamika tersebut, fondasi ekonomi Indonesia saat ini terbilang cukup solid di Asia Tenggara. Pada semester I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% secara kumulatif. Capaian ini menjadi pertumbuhan semester pertama tertinggi dalam lima tahun terakhir. Selain itu, neraca perdagangan periode Januari–Juni 2026 mencatat surplus USD3,58 miliar, serta cadangan devisa hingga Juli 2026 berada pada tingkat aman sebesar USD145,3 miliar.
Enrico menilai, struktur ekonomi Indonesia yang ditopang kuat oleh konsumsi domestik dan belanja pemerintah mampu menumbuhkan optimisme. Basis permintaan dalam negeri menjadi salah satu pilar penyangga pertumbuhan perekonomian Indonesia. Ini menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan domestik sebelum Indonesia memperkuat daya tariknya di mata investor global.
“Kalau kita lihat dalam ekonomi ASEAN lainnya, Vietnam itu sangat bergantung pada rekomendasi ekspor. Singapura dan Malaysia juga. Lalu Filipina masih oke karena dia services,” tutur Enrico. 
Dua indikator utama
Untuk mengubah fondasi tersebut menjadi daya tarik investasi yang berkelanjutan, kepastian operasional di lapangan menjadi syarat mutlak. Direktur Promosi Investasi Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru dan Pasifik Kementerian Investasi dan Hilirisasi RI/BKPM Saribua Siahaan mengungkapkan kepastian perizinan dan kepastian lahan merupakan dua indikator utama yang selalu menjadi perhatian utama investor.
Menyikapi tantangan tersebut, pemerintah terus mempercepat digitalisasi proses perizinan untuk memberikan kemudahan dan kepastian bagi dunia usaha. Selain itu, pemerintah juga menyediakan berbagai kawasan industri terpadu yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan investor.
“Sekarang pemerintah terus memperbaiki supaya izin-izin itu diproses secara online. Karena memang inilah kunci kalau kita mau pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu, pemerintah sadar betul kalau dua hal ini benar-benar harus dilakukan,” jelas Saribua.
Peran penting perbankan
Kemampuan Indonesia menjaga investor yang sudah menanamkan modal juga merupakan cara mewujudkan kepercayaan terhadap iklim investasi. Reinvestasi adalah salah satu indikator utamanya.
Enrico mencatat, setiap triwulan sekitar USD9 miliar kembali ke negara asal investor dalam bentuk pembayaran dan dividen. Angka ini memengaruhi neraca pendapatan primer dan nilai tukar rupiah. Jika para investor menilai iklim usaha di Indonesia kondusif dan menjanjikan, mereka akan menanamkan kembali keuntungan tersebut.
“Kalau kita sukses, mereka akan bertahan di sini, otomatis they will reinvest,” papar Enrico.
Upaya ini membutuhkan kolaborasi erat lintas sektor dan perbankan memegang peranan kunci dalam menciptakan sustainable business framework. Head of Corporate Banking UOB Indonesia Edwin Kadir menegaskan komitmen perbankan untuk mendampingi investor secara menyeluruh, mulai dari penjajakan awal investasi hingga menjalankan bisnis di Indonesia. Layanan ini termasuk koordinasi dengan BKPM, notaris, pengelola kawasan industri, hingga konsultan pajak.
“Kami tidak hanya fokus kepada pembiayaan, tetapi juga ingin menyediakan servis end-to-end,” imbuh Edwin.
Seiring dengan dinamika investasi global, penguatan investasi Indonesia memerlukan pendekatan menyeluruh. Tidak cukup hanya menarik investor baru, tetapi juga penting mempertahankan investor eksisting melalui kepastian regulasi, kemudahan perizinan, dan stabilitas ekonomi.
Kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan perbankan membangun ekosistem investasi yang tepercaya sehingga dapat mempertahankan arus modal dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Editor: Indah Sulistyorini














