kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
ADV / ADV

Ubah Strategi Anda


Senin, 21 Oktober 2019 / 01:05 WIB

Ubah Strategi Anda
ILUSTRASI. ATMAJAYA - Kontan ADV Online

KONTAN.CO.ID - Martin PH Panggabean, Ph.D.Kepala Program Studi Magister Ekonomi (Manajemen Risiko), Unika Atma Jaya

Dunia sedang memasuki tahapan kritis yang jarang terjadi. Lalu dimana anda harus meletakkan uang saat ini? Bagaimana strategi anda? Untuk membantu anda, saya punya beberapa saran untuk mencari informasi.

Pertama, lupakan sumber informasi dan analisa pasar jika berasal dari lembaga pemerintah. Pendapat pemerintah akan bias karena secara natural pemerintah harus nampak optimis sehingga anda tidak akan mendapatkan pro-kontra yang seimbang.

Kedua, lupakan narasumber informasi jika berasal dan bekerja di pasar finansial. Alasannya narasumber itu harus menjual sesuatu agar perusahaan mereka mendapat fee dari transaksi anda. Sehingga tidak heran, usulan mereka yang utama adalah merotasi aset. Menjual saham A, pindah ke saham B. Fee masuk kantong mereka: Nice.

Ketiga, lupakan nasihat dan analisa pasar dari pengamat ekonomi. Apalagi jika pengamat ekonomi ini sedang menduduki jabatan di instansi pemerintah, yang terkadang menjadi hilang analisa kritisnya.

Terakhir, jangan terlalu fokus pada isu ekonomi. Anda mungkin menganggap ekonomi adalah segalanya. Namun saat ini ekonomi hanya mengekor isu lain.

Ada empat isu utama non-ekonomi yang sedang menggerakkan pasar. Keempatnya adalah perang dagang dan teknologi Amerika Serikat (AS) versus China (anda pikir siapa yang mau mengalah duluan: Trump atau Xi?). Brexit (siapa yang mau mengalah: Boris Johnson atau parlemen atau Uni Eropa?). AS-Arab Saudi-Israel versus Iran: maukah Iran terus menerus ditekan dan dihina Trump dan negara barat? Argentina versus IMF: maukah IMF mengakui kesalahannya?

Terberat adalah perang dagang. AS dan China menghasilkan lebih dari 50 persen PDB dunia. Tanpa kompromi, dunia akan masuk ke dalam resesi. Hard Brexit akan menyebabkan ekonomi Eropa akan resesi pula. Artinya perang dagang dan Brexit secara langsung menyebabkan 70 persen ekonomi dunia masuk ke dalam resesi. Indonesia pasti terkena ikutannya.

Konfrontasi Iran dengan AS hanya akan menambah dimensi kesakitan yang baru yaitu inflasi. Perang akan menaikkan harga minyak dan ongkos produksi. Resesi karena perang dagang lalu diikuti inflasi. Indonesia pasti terkena ikutannya.

Akhirnya, Presiden Macri dari Argentina yang pro barat nampaknya akan tumbang dalam pemilu bulan ini. Digantikan oleh pemerintahan sosialis Kirchner. Sialnya, IMF terlanjur meminjamkan 57 miliar dolar AS kepada Macri dan Argentina, sementara calon pemenang nampaknya ancang-ancang tidak mau membayar IMF. Default seperti ini, seperti biasanya, akan menyebabkan kesakitan pada emerging market seperti Indonesia.

Itu sebabnya sulit bagi saya menerima asesmen optimis dari pemerintah bahwa kondisi Indonesia baik-baik saja. Serangan terhadap ekonomi Indonesia pada 1998 menjadi mematikan karena kondisi fundamental perbankan dan korporasi Indonesia yang lemah. Sehingga angka makro fundamental yang saat ini tampak baik-baik saja tidaklah selalu mencerminkan ketahanan dari sisi mikro.

Aset non-finansial seperti properti juga tidak menjadi alternatif. Paling tidak di kota-kota besar, harga tanah-rumah-ruko-apartemen lemah. Data OJK menunjukkan kredit macet yang stubbornly high.

Jangan bicara Bitcoin, Libra, emas, dan komoditas. Dengan ketidakpastian dan volatilitas yang sedang dan akan terus terjadi, aset-aset ini juga bukan alternatif utama.

Karena itu, rekomendasi rotasi aset pada saat kritis sungguh tidak masuk akal. Rekomendasi rotasi aset utamanya didasarkan pada korelasi antar aset. Namun, dalam kondisi krisis, korelasi fundamental antar aset berubah secara radikal.

Jadi bagaimana? Saya melakukan simulasi perhitungan portofolio dimana korelasi aset tidak stabil, cepat berubah. Ternyata kuantifikasi ini menunjukkan bahwa strategi terbaik anda adalah dengan equal-weight portfolio. Tunai-saham-obligasi-valas-emas bisa anda jadikan sebagai kelas utama. Di dalam saham, terdapat pula equal-weight dalam 10 saham. Di dalam mata uang terdapat pula 8-10 mata uang. Di dalam obligasi, terdapat pula 8-10 obligasi pemerintah dan korporasi.

Mengapa hal ini masuk akal? Karena dalam krisis, strategi anda bukanlah mencari keuntungan terbesar namun menghindari risiko. Masuk akal, karena dalam dunia rumit yang dihadang empat masalah terkait gengsi, anda tidak tahu aset mana yang akan naik atau turun. Masuk akal, karena dalam hidup, ada saatnya (seperti pada 1998) anda jangan terlalu banyak berteori yang rumit. Bagi rata saja investasi anda.


Sumber : Commercial Content
Editor: Ridwal Prima Gozal

Tag
Terpopuler

×