KONTAN.CO.ID - Ketahanan kelas menengah menjadi elemen penting dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Stimulus ekonomi dari pemerintah, penguatan sektor manufaktur, serta lebih disiplin mengelola keuangan pribadi menjadi kunci ketahanan finansial kelas menengah.
Pembahasan ini menjadi sorotan dalam forum diskusi UOB Media Editors Circle 2026 bertema “How the Middle Class Thrives in Economic Volatility” yang diselenggarakan PT Bank UOB Indonesia. Forum yang berlangsung pada Senin, 2 Maret 2026, di Aroem Mahakam Resto, Jakarta Selatan ini menghadirkan ruang diskusi yang menghubungkan perspektif kebijakan publik, kondisi ekonomi regional, serta strategi pengelolaan keuangan yang adaptif dalam menghadapi volatilitas ekonomi.
Dalam diskusi, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengungkapkan, proporsi kelas menengah dalam struktur masyarakat Indonesia terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelum 2020, proporsi kelas menengah mencapai 21,5%. Setelah pandemi, angkanya turun bertahap menjadi 19,8% hingga 17,3% pada 2024.
Padahal, kelompok ini memiliki peran sangat penting dalam perekonomian nasional. Pada 2025, konsumsi rumah tangga berkontribusi sebesar 53,88% terhadap produk domestik bruto (PDB). Dari total belanja tersebut, sebagian besar berasal dari kalangan menengah.
“Lebih dari 80% belanja rumah tangga berasal dari kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah,” ujar Susiwijono.
Melihat pentingnya peran kelas menengah, pemerintah menilai berbagai stimulus ekonomi selama ini juga menyasar kelompok tersebut. Kelas menengah menikmati berbagai kebijakan fiskal, mulai dari subsidi dan kompensasi energi yang nilainya mencapai lebih dari Rp300 triliun, bantuan subsidi upah, hingga program Kartu Prakerja.
Selain itu, pemerintah juga menyediakan pembiayaan melalui kredit usaha rakyat (KUR) untuk pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) untuk sektor otomotif dan properti, serta program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) dan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
“Program bantuan sosial reguler memang menyasar kelompok paling bawah, tetapi sebagian besar stimulus ekonomi bersifat luas dan turut dinikmati kelas menengah,” kata Susiwijono.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, pemerintah menggulirkan stimulus ekonomi secara berkala sepanjang 2025 hingga 2026. Salah satunya pada periode Lebaran, pemerintah memberikan berbagai insentif transportasi seperti diskon tiket kereta api melalui PT Kereta Api Indonesia, potongan tarif kapal laut, hingga diskon tarif jalan tol.
Revitalisasi sektor manufaktur
ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja yang turut hadir sebagai narasumber menilai pembukaan lapangan kerja padat karya di sektor manufaktur sangat penting untuk mengatasi tekanan terhadap kelas menengah.
Menurutnya, tantangan terbesar ekonomi global saat ini bukan hanya pada sisi pasokan, tetapi juga pada sisi permintaan. Ketidakpastian ekonomi membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam berbelanja.
“Kita harus mengembalikan sektor manufaktur, karena itu adalah tulang punggung suatu negara, termasuk di Indonesia,” kata Enrico.
Ia menjelaskan, pertumbuhan manufaktur tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga meningkatkan daya beli masyarakat. Dampaknya akan terasa pada kualitas pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Menurut Enrico, sejumlah sektor yang saat ini menarik investasi asing di Indonesia antara lain transportasi, pergudangan, logistik, dan pertanian. Khusus sektor pertanian, ia melihat potensi besar dalam menyerap tenaga kerja apabila didukung insentif yang tepat, seperti subsidi pupuk atau bantuan alat produksi.
Investasi jangka panjang
Sementara itu, Head of Deposit and Wealth Management UOB Indonesia, Emillya Soesanto, menilai kelas menengah perlu mengelola keuangan secara lebih disiplin dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, terutama dalam memanfaatkan pendapatan tambahan seperti THR dan bonus tahunan.
Masyarakat juga perlu memahami berbagai pilihan investasi yang tersedia, tidak hanya terbatas pada emas atau tabungan kas. Salah satu prinsip penting dalam investasi adalah memahami momentum harga.
“Prinsip investasi yang paling penting adalah buy low, sell high, bukan sebaliknya,” tandas Emillya.
Selain itu, Emillya juga mendorong masyarakat untuk menerapkan strategi investasi jangka panjang seperti dollar cost averaging, yaitu berinvestasi secara berkala dengan nominal tetap tanpa bergantung pada fluktuasi harga pasar. Menurutnya, investasi secara konsisten sering menghasilkan kinerja lebih baik dibandingkan menebak pergerakan pasar atau timing the market.
“Orang Indonesia biasanya sukanya menjadi follower. Jadi hati-hati, jangan hanya ikut-ikutan, tetapi kita juga harus mengerti dan melakukan dollar cost averaging,” ujarnya.
Investor juga perlu memahami risiko sebelum mengejar keuntungan. Emillya menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan UOB dalam perencanaan keuangan adalah risk-first approach, yakni memprioritaskan perlindungan aset sebelum fokus pada pertumbuhan investasi. Pendekatan ini terdiri atas tiga tahap utama, yakni protect, build, dan enhance.
Tahap pertama menekankan pentingnya fondasi keuangan seperti dana darurat dan asuransi. Tahap kedua adalah build, yang bertujuan menstabilkan kondisi keuangan sekaligus melawan inflasi melalui investasi yang menghasilkan pendapatan reguler. Sementara tahap ketiga, enhance, difokuskan pada upaya meningkatkan imbal hasil dengan diversifikasi ke kelas aset yang lebih berisiko.
“Bagaimana kita meningkatkan hasil investasi kita, termasuk melihat peluang ke higher asset class,” ujarnya.
Konsumen lebih selektif
Head of Strategic Communications and Brand UOB Indonesia Luke Ariefiandi menegaskan pentingnya dialog lintas sektor untuk memahami perubahan ekonomi yang terjadi. UOB Media Editors Circle 2026 menjadi bagian dari upaya UOB Indonesia memperkuat literasi finansial masyarakat dan membantu publik memahami strategi menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Temuan studi terbaru UOB melalui ASEAN Consumer Sentiment Study (ACSS) 2025 juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia kini semakin berhati-hati dalam mengelola keuangan.
Survei yang dilakukan pada Mei hingga Juni 2025 terhadap 1.000 responden di Indonesia, serta 5.000 responden di kawasan Asia Tenggara menunjukkan bahwa 59% responden merasa inflasi telah menekan daya beli rumah tangga. Akibatnya, banyak konsumen mulai memprioritaskan kebutuhan utama dan lebih selektif membeli barang yang bersifat opsional.
Meski demikian, studi tersebut juga menemukan bahwa pengeluaran untuk gaya hidup dan pengalaman justru meningkat, terutama di kalangan generasi muda.
Sebanyak 34% responden melaporkan peningkatan pengeluaran untuk kategori seperti liburan, santapan mewah, atau konser pada 2025. Angka ini naik dari 20% pada tahun sebelumnya. Di kalangan generasi Z, bahkan 85% responden menilai pengalaman tersebut penting bagi kesejahteraan mereka.
“Fenomena ini menunjukkan adanya keseimbangan baru dalam perilaku konsumsi masyarakat. Mereka lebih berhati-hati dalam pengeluaran sehari-hari, tetapi tetap memberi ruang bagi pengalaman yang dianggap meningkatkan kualitas hidup,” jelas Luke.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan terhadap daya beli, keberlanjutan kelas menengah menjadi faktor kunci bagi stabilitas ekonomi Indonesia. Kombinasi antara kebijakan yang tepat, penciptaan peluang kerja, serta literasi keuangan yang lebih baik diharapkan mampu memperkuat ketahanan finansial kelas menengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Editor: Indah Sulistyorini












