kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45862,44   -0,26   -0.03%
  • EMAS918.000 -1,50%
  • RD.SAHAM -0.33%
  • RD.CAMPURAN -0.01%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.06%
ADV /

Prokes ketat untuk melindungi penumpang, karyawan serta keberlanjutan bisnis


Jumat, 13 Agustus 2021 / 09:53 WIB
Prokes ketat untuk melindungi penumpang, karyawan serta keberlanjutan bisnis
marcomm - kontan adv online

KONTAN.CO.ID - Kendati masa pandemi, banyak orang yang masih mengandalkan transportasi umum untuk berpindah tempat. Khususnya di wilayah Jabodetabek, baik  kereta commuter (KRL) maupun moda raya terpadu  (MRT) masih dibutuhkan warga untuk mengantarkan mereka ke tempat kerja.

Penerapan protokol kesehatan (prokes) ketat pun jadi senjata utama pengelola moda transportasi ini untuk memerangi virus Covid-19. Bukan saja untuk melindungi masyarakat yang menjadi pengguna, tapi juga karyawan serta keberlanjutan bisnis moda transportasi tersebut.

Seperti yang disampaikan oleh Plt. Corporate Secretary, Division Head PT MRT Jakarta Ahmad Pratomo. “Penerapan protokol kesehatan 3M dan 3T terutama di MRT Jakarta tidak bisa dilepaskan dari Business Continuity Management (BCM),” ujarnya dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Penerapan Prokes pada Transportasi Publik yang digelar Kontan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Ahmad menyebut, ada tiga fokus BCM. Yakni, melindungi aset MRT yang paling berharga yaitu karyawan/insan MRT Jakarta, melakukan penyesuaian kebijakan terkait operasional dan layanan kepada pengguna jasa MRT, dan untuk mendorong keberlanjutan bisnis di tengah pandemi.

“Selain itu, pengelola MRT juga selalu menyesuaikan dengan perkembangan peraturan baik yang dikeluarkan oleh Pemprov DKI Jakarta maupun Pemerintah Pusat dalam rangka menekan penyebaran Covid-19 di MRT jakarta,” jelas Ahmad.

 

Ciptakan budaya baru

Implemantasi prokes yang telah dilakukan oleh MRT Jakarta kepada pengguna jasa antara lain, mulai dari pengukuran suhu tubuh, mewajibkan penggunaan masker, menjaga jarak di dalam kereta/duduk maupun berdiri, dan menerapkan sistem transaksi secara contactless. Tak lupa, pengelola menjamin kebersihan dan sterilisasi fasilitas MRT dengan menambah intensitas pembersihan di kereta.

Hal yang sama juga KRL Commuter Line lakukan. Bahkan, mereka sudah melakukan sosialisasi protokol kesehatan sejak Februari 2020. Dengan semboyan We Save Our People, pengelola KRL justru sangat fokus dengan penerapan protokol kesehatan di KRL.

Hal ini tampak dari berbagai inisiatif kebijakan yang diterapkan oleh pengelola, di antaranya mewajibkan seluruh pengguna KRL menggunakan masker dobel, melarang berbicara selama di kereta, dan disiplin mengikuti peringatan yang tertulis di marka yang terpasang.

Untuk mendorong masyrakat mengikuti kebijakan baru ini, pendekatan humanis pun dilakukan. Salah satunya dengan membagi satu juta masker ke penumpang. “Langkah kebijakan ini diambil agar pesan dan kampanye protokol kesehatan ini dapat diterima dengan baik oleh pengguna KRL,” terang Anne Purba, Vice President Corporate Communication PT. Kereta Commuter Indonesia.

Selain itu pengelola KRL juga melakukan rapid antigen di berbagai stasiun di Jabodetabek dan secara ketat menjaga kebersihan dan sterilisasi fasilitas serta infrastruktur KRL demi menjaga kesehatan karyawan dan pengguna KRL.

Sistem pembayaran secara cashless juga telah diterapkan di 80 stasiun KRL di seluruh Indonesia untuk mengurangi kontak secara langsung antara pengguna dengan petugas layanan KRL. Yang terbaru, untuk mengurangi penumpukan penumpang, pengelola KRL menyiapkan aplikasi KRL Acces.

Dengan aplikasi ini, penumpang bisa memantau kepadatan stasiun dan jadwal kereta. “Mereka bisa menentukan jam keberangkatan dan kami juga akan mengirim tambahan kereta untuk mengurai kepadatan stasiun,” kata Anne.  

Ya, pandemi ini mengubah budaya kita bertransportasi. Masyarakat sebagai pengguna pun diharapkan sadar untuk mengikuti aturan yang ditetapkan. Meski melihat penerapan prokes di kedua moda transportasi ini sudah baik, Panji Utomo, pelanggan KRL maupun MRT, mengakui masih melihat masyarakat yang kurang menyadari pentingnya mengikuti aturan yang ditetapkan. “Inilah tantangan yang dihadapi. Perlu pendekatan dan dorongan supaya warga mengikuti budaya baru bertransportasi agar tak merugikan diri sendiri dan orang lain ,” kata Panji.

Untuk lebih jelasnya, Anda bisa mengikuti diskusi FGD ini di kanal Youtube Kontan TV.


Reporter: Adv Team
Editor: indah sulistyorini

TERBARU
Kontan Academy
Mastering Virtual Selling: How to win sales remotely Optimasi alur Pembelian hingga pembayaran

×