kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.345.000 -0,88%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%
ADV /

Perusahaan Logistik Kunci Pertumbuhan Perdagangan Elektronik (E-Commerce)


Senin, 06 Mei 2024 / 10:40 WIB
Perusahaan Logistik Kunci Pertumbuhan Perdagangan Elektronik (E-Commerce)
Dr. Hastuti Naibaho,. M.Si, Dosen Program Studi E-commerce Logistics Multimedia Nusantara Polytechnic (MNP)

KONTAN.CO.ID - Keberadaan sektor e-commerce mendapat tempat khusus di Indonesia sejak masa COVID-19, karena pembatasan interaksi untuk mencegah penyebaran COVID. Baik masyarakat sebagai konsumen, maupun pelaku usaha, mencari alternatif untuk dapat tetap memenuhi kebutuhan masing-masing. Transaksi berbasis online merupakan solusi atas masalah yang dihadapi masyarakat. Sejak saat itu, masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan proses transaksi perdagangan online yang minim interaksi langsung. Bahkan, saat ini perilaku pembelian masyarakat Indonesia sudah dapat dikatakan bergeser pada perilaku pembelian berbasis online. Hal ini dapat terlihat dari data Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, pertumbuhan nilai perdagangan elektronik (e-commerce) di Indonesia mencapai 78%. Sementara pada 2023, berdasarkan data BI, realisasi nilai transaksi perdagangan elektronik Rp 453,75 triliun dengan volume transaksi mencapai 3,71 miliar.

Sejalan dengan informasi dari Kominfo, Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia Triwulan IV 2023 sebesar 5,05% dan lapangan usaha yang memberikan kontribusi tertinggi adalah usaha transportasi dan pergudangan (BPS, 2023). Data ini menunjukkan bahwa pertumbuhan PDB Indonesia ditopang oleh sektor usaha logistic sekaligus memberikan informasi bahwa usaha logistik akan menjadi sektor yang memiliki market attractiveness yang tinggi untuk investor.

Indonesia seharusnya mampu mencapai pertumbuhan PDB yang lebih tinggi pada 2024 jika sektor logistik dapat meningkatkan kinerjanya. Berdasarkan hasil pemeringkatan Bank Dunia, kinerja perusahaan logistik Indonesia dilihat dari Logistic Performance Index (LPI) berada pada posisi 63 dari 139 negara (Mahardika, 2023). Padahal, Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) memprediksi perusahaan logistik dapat bertumbuh 5-8% sehingga akan memberikan kontribusi besar pada pertumbuhan PDB Indonesia (Putra, 2023). Rendahnya LPI Indonesia saat ini karena banyaknya kendala yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan logistik. Tantangannya adalah biaya logistik yang tinggi karena biaya angkut yang mahal, infrastruktur dan layanan pelabuhan yang belum mampu menampung kapal-kapal besar, terbatasnya kawasan ekonomi, serta belum ada konsolidasi rute untuk mengoptimasi pengangkutan barang (Budiyanti, 2023).

Pada sektor perdagangan elektronik sendiri, kita dapat melihat peran penting perusahaan logistik dalam membantu proses transaksi bisnis berbasis digital. Perusahaan logistik menjadi perantara antara penyedia produk dan konsumen. Tanpa kinerja perusahaan logistik yang baik, perdagangan elektronik juga tidak akan mengalami pertumbuhan. Penyedia produk yang menjual produknya pada sebuah marketplace, sangat bergantung pada kinerja perusahaan logistik karena penilaian konsumen terhadap kinerja perusahaan penjual juga meliputi kinerja perusahaan logistik. Marketplace juga sering menggunakan strategi bebas biaya kirim untuk meningkatkan jumlah transaksi yang menguntungkan untuk penjual maupun marketplace itu sendiri. Sayangnya, konsekuensi strategi ini akan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen.

Kepuasan konsumen pada perdagangan elektronik banyak dipengaruhi oleh kinerja perusahaan logistik, baik kepuasan terhadap produk itu sendiri maupun kepuasan terhadap layanan pascatransaksi. Konsumen sering kecewa terhadap penyedia produk dan memberi ulasan negatif sebagai akibat dari kinerja perusahaan logistik. Misalnya, ketika produk sampai pada konsumen dalam keadaan rusak, konsumen akan kecewa dan marah pada penjual, hingga mengajukan penggantian barang. Selain kekecewaan terhadap produk, konsumen juga sering tidak puas dengan lamanya durasi pengiriman.

Hasil dari survei yang dilakukan oleh World Bank terhadap indikator-indikator yang menyebabkan rendahnya LPI Indonesia adalah waktu pengiriman (timelines), tracking & tracing, serta logistic competence and quality (Budiyanti, 2023). Kinerja perusahaan logistik yang menyebabkan kepuasan konsumen rendah, khususnya pada perdagangan elektronik akan menyebabkan penurunan minat beli masyarakat pada sektor e-commerce. Padahal sektor ini dapat menjadi andalan peningkatan ekonomi Indonesia, khususnya UMKM karena akses, infrastruktur, hingga layanan mereka terbuka untuk menjangkau calon konsumen secara nasional. Sayangnya, fokus terhadap peran penting kualitas layanan perusahaan logistik pada perdagangan elektronik kurang mendapat perhatian, padahal potensi bisnis untuk sektor ini sangat menjanjikan karena preferensi masyarakat Indonesia terhadap transaksi elektronik sangat tinggi. Artinya kebutuhan untuk penyedia jasa logistik juga tinggi, sehingga sektor ini akan sangat menjanjikan bagi para investor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Reporter: Adv Team
Editor: Indah Sulistyorini

TERBARU

×