kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.916.000   4.000   0,14%
  • USD/IDR 16.918   17,00   0,10%
  • IDX 8.274   -36,15   -0,43%
  • KOMPAS100 1.163   -5,91   -0,51%
  • LQ45 834   -4,25   -0,51%
  • ISSI 296   -0,45   -0,15%
  • IDX30 437   -1,48   -0,34%
  • IDXHIDIV20 520   -5,14   -0,98%
  • IDX80 130   -0,58   -0,44%
  • IDXV30 144   0,34   0,24%
  • IDXQ30 140   -1,50   -1,06%
ADV /

Outlook Saham Kontan 2026: Dari Dinamika Global ke Keputusan Investasi


Kamis, 19 Februari 2026 / 17:00 WIB
Outlook Saham Kontan 2026: Dari Dinamika Global ke Keputusan Investasi
Outlook Saham Kontan 2026

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah gempuran ketidakpastian global yang kian memanas di awal tahun 2026, optimisme pelaku pasar modal Indonesia rupanya tak surut. Hal ini terlihat dari antusiasme para peserta yang memadati Ruang Ruby, Lantai 7 Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Barat, Jakarta, pada Kamis (19/2/2026).

Mereka hadir di seminar eksklusif bertajuk "Outlook Saham Kontan 2026: Dari Dinamika Global ke Keputusan Investasi". Acara yang dipandu oleh moderator sekaligus Editor Senior Kontan Dupla Kartini ini, menjadi oase bagi investor yang tengah mencari arah di tengah kabut volatilitas pasar.

Mulai tepat pukul 13.00 WIB, seminar dibuka oleh Managing Director Kontan Cipta Wahyana, menghadirkan dua narasumber kelas wahid, yaitu David Sumual, Ekonom Bank BCA, dan Kartika Sutandi, Founder serta CMO Jarvis Asset Management. Diskusi berjalan hangat namun tajam, membedah bagaimana perubahan suku bunga, tensi geopolitik, hingga arus modal global membentuk wajah pasar saham tahun ini. Pesan utamanya jelas: dalam kondisi seperti ini, keputusan investasi tidak bisa lagi hanya berbasis sentimen semata.

Ekonomi "Siaga Perang" dan Ketahanan Indonesia

Sesi pertama dibuka dengan paparan makroekonomi yang komprehensif dari David Sumual. Membawa materi bertajuk "Standing Tall Despite Global Pressures", David tidak menampik bahwa tahun 2026 membawa tantangan yang unik dan berat.

David menyoroti, kini dunia berada di era multipolaritas di mana ketidakpastian menjadi tema bawaan (built-in theme). Ia memperkenalkan istilah "War-like economy" untuk menggambarkan kondisi global saat ini: sebuah era di mana pertumbuhan, inflasi, dan suku bunga cenderung bertahan di level tinggi.

"Kita melihat ketegangan antar kekuatan besar dunia menyulut apa yang saya sebut sebagai CAPEX race, terutama pada sektor kecerdasan buatan (AI), militer, dan energi. Ini menyebabkan beban fiskal negara-negara maju meningkat, dan kebijakan moneter akhirnya hanya mengekor kebijakan fiskal," ujar David di hadapan para peserta.

Dalam paparannya, David juga mengingatkan tentang potensi Black Swan event dan kelanjutan kebijakan tarif dari pemerintahan Donald Trump yang baru, serta dinamika ekonomi Tiongkok yang masih menjadi teka-teki. Namun, di tengah badai tersebut, David menekankan bahwa Indonesia punya fondasi robust. "Masalahnya saat ini adalah sentimen menutupi fundamental. Potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat kuat, namun seringkali kurang dilihat oleh pasar akibat pemburukan sentimen global. Padahal, jika kita lihat datanya, fondasi fiskal kita cenderung terjaga," jelas David.

Ia juga menyinggung tantangan domestik berupa Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang meningkat, yang menandakan perlunya efisiensi investasi untuk mendorong pertumbuhan PDB lebih jauh. Namun, pesan akhirnya tetap optimis: Indonesia mampu "berdiri tegak", asalkan mampu menjaga resiliensi nasional di atas efisiensi global.

Rotasi Arus Modal: Waktunya Emerging Market Bersinar

Jika David memotret dari sisi makro, Kartika Sutandi dari Jarvis Asset Management, menerjemahkannya ke dalam strategi investasi yang taktis dan agresif. Membawa materi “Market Outlook 1H26”, Kartika memberikan angin segar bagi para investor saham.

Kartika memulai dengan kilas balik semester kedua 2025 yang impresif. "JCI (IHSG) naik 20,1% di paruh kedua 2025, outperforming pasar global. Kita mengalahkan S&P 500 yang tumbuh 16,4%, bahkan jauh di atas pasar saham China dan Eropa," ungkap Kartika sambil menunjukkan grafik perbandingan pasar global.

Menurut Kartika, narasi besar tahun 2026 adalah pergeseran dominasi dari Developed Markets (DM) ke Emerging Markets (EM). "EM finally outperforming DM. Ini adalah momentum yang sudah lama kita tunggu," tegasnya.

Dalam sesi yang dinanti-nanti peserta, Kartika membedah sektor-sektor yang menjadi "primadona" dalam keranjang investasi Jarvis, yang ia sebut sebagai "Mini Universe". Ia menekankan pentingnya investor melihat valuasi (PE), Price to Book Value (PBV), dan Return on Equity (ROE) prediksi tahun 2026.

Sektor telekomunikasi dan pertambangan logam menjadi sorotan utama. Kartika memaparkan data menarik mengenai emiten menara dan operator seluler. "Lihat TOWR dan TBIG, valuasinya masih menarik. Namun, yang luar biasa adalah sektor logam. MDKA misalnya, memiliki proyeksi pertumbuhan laba yang masif dengan ROE yang kompetitif. Begitu juga dengan pemain nikel seperti INCO dan ANTM," papar Kartika.

Ia juga tidak melupakan sektor energi fosil yang masih relevan. Saham minyak seperti MEDC dan sektor batubara masih masuk dalam radar strategis, mengingat kebutuhan energi global yang terus meningkat seiring dengan CAPEX race yang disinggung oleh David sebelumnya.

Strategi Investor: Jangan Terbawa Arus

Sesi tanya jawab yang dipandu Dupla Kartini berlangsung dinamis. Salah satu poin krusial yang digali adalah bagaimana investor ritel harus bersikap. Kedua narasumber sepakat bahwa volatilitas adalah kawan bagi investor yang jeli, bukan lawan.

"Jangan mengambil keputusan investasi hanya karena panik melihat headline berita geopolitik," saran David. Sementara Kartika menambahkan, "Fokus pada angka. Kinerja emiten di Indonesia, terutama big caps dan sektor strategis, menunjukkan resiliensi yang luar biasa. Valuasi kita masih murah dibandingkan potensi pertumbuhannya."

Acara Outlook Saham 2026 ini ditutup sore hari dengan kesimpulan yang kuat: Tahun 2026 memang penuh dengan "dinamika global" yang keras selayaknya ekonomi perang, namun bagi mereka yang jeli melihat fundamental dan data, ini adalah tahun untuk mengakumulasi aset-aset berkualitas di harga yang masuk akal.

Para peserta meninggalkan Gedung Kompas Gramedia dengan bekal strategi baru: waspada terhadap makro, namun agresif pada peluang sektoral yang spesifik. Di tengah ketidakpastian, pengetahuan dan data adalah mata uang paling berharga.

Selanjutnya: THR Dorong Konsumsi, Ekonomi Kuartal I-2026 Diproyeksi Tumbuh 5,5%-6%

Menarik Dibaca: Kelelahan Finansial Bisa Menggerus Hidup? Ini Cara Mudah Mengatasi Stres Keuangan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Reporter: Adv Team
Editor: Indah Sulistyorini
Tag

TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

×