kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.992   80,00   0,45%
  • IDX 6.010   -61,64   -1,02%
  • KOMPAS100 774   -11,44   -1,46%
  • LQ45 592   -8,80   -1,46%
  • ISSI 208   -2,25   -1,07%
  • IDX30 328   -4,71   -1,41%
  • IDXHIDIV20 419   -5,32   -1,25%
  • IDX80 88   -1,32   -1,47%
  • IDXV30 114   -0,94   -0,82%
  • IDXQ30 107   -1,23   -1,13%
ADV / ADV

Menimbang Strategi Ketangguhan Indonesia Menghadapi Berbagai Disrupsi Global


Kamis, 01 Oktober 2026 / 16:00 WIB
Menimbang Strategi Ketangguhan Indonesia Menghadapi Berbagai Disrupsi Global
Dok. Kontan

KONTAN.CO.ID - Persaingan Amerika Serikat (AS) dan China tak sebatas perdagangan, tetapi juga meluas ke sektor energi, investasi, dan pasokan manufaktur. Rivalitas ini menyebabkan tekanan terhadap ekspor, investasi, nilai tukar rupiah, serta ketergantungan pada komoditas. Di sisi lain, diversifikasi rantai pasok global membuka peluang relokasi investasi ke Asia Tenggara.Bagaimana Indonesia bertahan dan bertumbuh di tengah fragmentasi global? 

Menjawab permasalahan ini, Kontan Economic and Demographic Forum (KEDF) 2026 menghadirkan sesi diskusi bertema "Geo-Economics: Can Indonesia Stay Resilient in a Fractured World?". Dalam sesi ini, Co-Founder & Executive Director Synergy Policies Dinna Prapto Raharja serta Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu membedah strategi ketahanan ekonomi Indonesia dalam menavigasi guncangan eksternal dengan dua perspektif yang saling melengkapi, yakni geopolitik dan ekonomi-perdagangan. 

Adaptif dan tetap produktif

Co-Founder & Executive Director Synergy Policies Dinna Prapto Raharja mengawali pemaparannya dengan menguraikan strategi negara-negara kekuatan ekonomi besar maupun menengah dalam menghadapi tantangan geopolitik. Di antaranya, Vietnam yang memanfaatkan kompetisi geopolitik sebagai peluang pertumbuhan ekonomi.

“Vietnam menetapkan dirinya sebagai hub manufacture dan supply chain yang tepercaya buat China dan Amerika,” tandas Dinna. 

Bercermin pada strategi negara-negara tersebut, Dinna menyebut empat pilar utama yang perlu diterapkan untuk memperkuat ketangguhan ekonomi Indonesia. Pertama, konsistensi industrialisasi jangka panjang dengan nilai dan produktivitas tinggisertadiplomasi proaktif. Kedua, penguatan sumber daya manusia melalui program universal dibidang pendidikan, kesehatan, peningkatan keterampilan, dan perlindungan tenaga kerja. 

Pilar ketiga adalah adaptasi ekologis dan responsterhadap krisis lingkungan, kemudian pilar keempat mencakup perlindungan kelas menengah dan kemitraan luar negeri yang transformatif. 

“Dalam dunia yang terfragmentasi ini, negara yang paling tangguh menurut saya adalah negara yang adaptif, yang tetap produktif, dan tepercaya di tingkat internasional,” pungkas Dinna. 

Akselerasi digitalisasi layanan publik

Selanjutnya, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu mengungkapkan saat ini Indonesia tengah menghadapi empat disrupsi secara bersamaan, mulai dari fragmentasi global dan rivalitas AS-China, krisis Selat Hormuz, tren transisi hijau, hingga pesatnya adopsi AI. 

Menurut Mari, disrupsi teknologi dan AI perlu menjadi tantangan industri di Indonesia dalam menghadapi perubahan ekonomi ke depan. Ia menilai perubahan yang dibawa AI berlangsung dengan sangat cepat dan sudah mulai dirasakan oleh dunia usaha. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Reporter: Adv Team
Editor: Indah Sulistyorini
Tag

TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

×