kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.007,04   11,06   1.11%
  • EMAS974.000 0,72%
  • RD.SAHAM -1.86%
  • RD.CAMPURAN -0.70%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%
ADV /

Masih Ada Cuan, Asal Jeli Melihat Kinerja Bank Digital


Rabu, 09 Maret 2022 / 06:47 WIB
Masih Ada Cuan, Asal Jeli Melihat Kinerja Bank Digital

KONTAN.CO.ID - Dua tahun terakhir, bank digital menjadi fenomena. Bank digital atau yang sering disebut neobank dengan cepat naik daun di tengah pandemi yang melanda dunia. Adanya berbagai pembatasan selama pandemi, mendorong nasabah untuk mengubah kebiasaan transaksi dari konvensional menjadi digital.

Kondisi ini makin memperlebar peluang bagi perbankan masuk ke bisnis bank digital. Bukan hanya bank-bank kecil, bank-bank besar pun akihrnya terjun ke ranah bisnis neobank. Sebut saja, BCA yang membuat BCA Digital, lalu ada BRI yang mengubah Bank Agro menjadi Bank Raya dan Mandiri yang kian memaksimalkan aplikasi Livin yang sudah mereka kembangkan.

Pemain baru di luar perbankan pun tergiur mencicip pasar bank digital. Termasuk perusahan fintech yang mengakuisisi sebuah bank untuk kemudian diubah menjadi bank digital. Yang terbaru, Modalku yang mengakuisisi Bank Index untuk memperluas bisnis dengan menyajikan layanan perbankan digital. 

Menjamurnya perbankan digital sedikit banyak turut mengangkat prospek bisnis bank digital itu sendiri. Tentu saja, termasuk memoles prospek saham-saham bank digital yang sudah melantai di bursa (BEJ). Tak heran, dalam kurun waktu setahun, atau sepanjang 2021 lalu, saham-saham bank digital sempat meroket tinggi sekali.

Harga saham bank-bank digital melejit drastis. Lonjakannya mencapai ribuan persen, hingga membuat kekayaan para investor atau pemilik baru dari bank-bank kecil melejit. 

Padahal, performa saham sebagian bank-bank ini tidak selaras dengan kinerja keuangan mereka. Atau boleh dibilang, dari sisi fundamental, kinerja bank-bank digital belum ada yang menggembirakan. Alih-alih mendapatkan untung, sebagian besar bank digital masih menorehkan kerugian tahun lalu.

David Sumual, Ekonom BCA, menilai banyak faktor yang membuat bank-bank digital dengan cepat menjadi fenomena. “Prospek bank digital nasional didorong oleh peningkatan konektivitas dan penggunaan kanal digital. Pandemi kian mempercepat layanan digital perbankan,” jelasnya dalam Webinar KONTAN bertajuk Prospek Bank Digital 2022 pada akhir pekan lalu.

Selain itu, terjadi akselerasi akan keberadaan bank digital ini terutama setelah global finansial krisis. Selama dekade terakhir, bank-bank sentral global terus meluncurkan likuiditas ke pasar. “Artinya, uang beredar meningkat kencang, investasi mengalir deras. Salah satunya masuk ke perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan teknologi,” sambung David yang juga menjadi dosen di sejumlah universitas ini.

Di sisi lain, perkembangan teknologi yang semakin cepat ikut memuluskan digitalisasi layanan perbankan. Tak heran, seperti yang terlihat di BCA, volume transaksi perbankan kian didominasi oleh kanal digital. Porsi mobile dan internet sudah mencapai 88% dari total volume transaksi. Sementara, branch hanya 1% dan ATM 11%. “Inilah salah satu faktor transaksi digital menjadi sangat vital,” ungkap David.

Telisik pertumbuhan labanya

Jika dilihat dari bisnis perbankan sendiri, seperti yang terjadi pada industri perbankan global, tren margin bank (net interest margin) cenderung turun. Pendapatan kredit turun lantaran suku bunga global melandai.

Kondisi inilah yang memaksa bank untuk mencari celah pendapatan lain di luar bunga. Bank pun terus menggenjot pendapatan di luar bunga (non-interest income), dengan memperkuat layanan digital.  “Kami melihat peranan dari pendapatan non-bunga ini semakin meningkat, bahkan hampir mencapai 40% saat ini,” kata David.

Dari sinilah, terlihat peluang bank digital ke depan masih terbuka lebar lantaran trennya memang mengarah ke sana. Tinggal seberapa kuat bank-bank digital itu memperluas ekosistem digitalnya dan menggenjot pertumbuhan nasabah atau user mereka.

Lantas, jika bisnis perbankan digital masih menyimpan prospek yang cerah, bagaimana dengan potensi cuan dari kenaikan harga sahamnya? Pasalnya, beberapa harga  saham bank digital ini sudah terlampau mahal akibat dari tingginya minat investor setahun lalu.  

Sunar Susanto, praktisi pasar modal sekaligus pendiri komunitas Saham Profit mengatakan, mesti valuasi bank digital sudah sangat tinggi, bukan berarti tidak ada peluang sama sekali untuk masuk. “Secara teknikal masih ada peluang saham bank digital untuk naik,” jelas Sunar.

Namun, sebelum membenamkan investasi ke bank digital, Anda harus melihat pertumbuhan laba bersihnya. “Kalau ada pertumbuhan laba bersih, berarti ada prospek bank digitalnya,” kata Sunar.

Di luar itu, Sunar mengingatkan agar investor waspada terhadap saham-saham perbankan yang sudah naik tinggi dan price to book value (PBV) melonjak lebih dari 100% dalam waktu singkat atau kurang dari setahun. “Fokus saja ke perbankan yang fundamentalnya bagus, sabar, fokus dan disiplin,” sarannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Reporter: Tim KONTAN
Editor: Indah Sulistyorini

TERBARU

×