kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45952,95   2,36   0.25%
  • EMAS938.000 -0,11%
  • RD.SAHAM -0.11%
  • RD.CAMPURAN -0.07%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%
ADV /

Lintasarta Dorong Kolaborasi Untuk Ciptakan Ekosistem Digital Indonesia


Jumat, 10 Desember 2021 / 07:00 WIB
Lintasarta Dorong Kolaborasi Untuk Ciptakan Ekosistem Digital Indonesia
ILUSTRASI.

KONTAN.CO.ID - Pandemi COVID-19 membuat pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia hadir lebih cepat. Hal tersebut terbukti dari bertumbuhnya transaksi uang elektronik di Indonesia. Berdasarkan data dari Bank Indonesia, nilai transaksi uang elektronik sampai triwulan III 2021 meningkat 45,05% year on year (yoy) menjadi Rp209,81 triliun, hingga akhir tahun 2021 diperkirakan jumlah transaksi uang elektronik meningkat 38,75% yoy hingga mencapai Rp284 triliun.

Sementara berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, nilai ekonomi digital Indonesia pada tahun 2020 mencapai Rp632 triliun, dan menyumbang 4% terhadap PDB Nasional. Angka tersebut diproyeksikan akan terus naik menjadi Rp4.531 triliun pada tahun 2030, serta menyumbang 18% terhadap PDB.

Tak hanya transaksi digital, pandemi juga membuat kebutuhan akan jaringan internet semakin tinggi. Pasalnya, banyak pekerja dan pelajar yang harus belajar dari rumah. Sayangnya, infrastruktur internet di Indonesia belum merata.

Johnny G. Plate, Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, mengatakan, infrastruktur information and communication technologies (ICT) belum merata di seluruh Indonesia. Untuk itu, Presiden Joko Widodo memerintahkan Kominfo untuk membangun infrastruktur di wilayah non komersial atau wilayah 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal). Sementara untuk wilayah komersialyang jumlahnya ada 3.435 desa dan kelurahan, itu menjadi tugas dari sektor swasta untuk membangunnya.

“Jumlahnya ada 9.113 desa dan kelurahan di wilayah 3T. Kita harapkan, tahun 2022 nanti bisa kita hadirkan coverage sinyal 4G sebagai backbone ICT nasional. Setelah Kominfo menyediakan infrastruktur pasif di daerah 3T, maka sektor swasta segeralah bergabung untuk menyediakan infrastruktur aktif supaya sinyal segera bisa tersedia dan rakyat memanfaatkannya segera mungkin,” ujar Johnny.

Pentingnya Pusat Data

Selain mendorong sektor swasta untuk menyediakan infrastruktur aktif di wilayah 3T, pemerintah juga mendorong sektor swasta untuk membangun pusat-pusat data berbasis cloud atau komputasi awan.Hal ini didasari adanya kebutuhan  internet yang semakin meningkat, kebutuhan proses digitalisasi pada berbagai perusahaan, dan pertumbuhan perusahaan rintisan atau start up yang semakin pesat, serta dibarengi kebutuhan akan solusi pusat data alias serveryang juga semakin tinggi.

Presiden Direktur Lintasarta Arya Damar menuturkan, meningkatnya kebutuhan digital dalam menunjang proses bisnis perusahaan-perusahaan di tanah air menyebabkancloud menjadi jasa yang paling banyak dicari oleh berbagai industri termasuk perusahaanstart up. Lebih lanjut disampaikan Arya, saat ini banyak perusahaan yang belum memanfaatkan cloud dalam negeri. “Jangan sampai kita punya infrastruktur, tetapi kebutuhan solusi bukan belum sepenuhnya di support oleh penyedia clouddomestik,” ujar Arya.

Untuk itu, Arya mengajak seluruh perusahaan-perusahaan ICT di Indonesia untuk berkolaborasi menghadirkan server-server berbasis cloud supaya Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri. Terkait hal tersebut, Menkominfo Johnny G. Plate juga berharap agar Indonesia bisa menjadi cloud hub di Asia Tenggara. Pasalnya, ada beberapa negara tetangga yang tidak lagi mungkin membangun cloud karena keterbatasan power supply.

Sebagai perusahaan yang selama 33 tahun telah menjadi penyedia solusi komunikasi data dan layanan internet untuk korporasi, Lintasarta kini menghadirkan kembali solusi layanan Cloud yang sudah 10 tahun membantu memenuhi kebutuhan berbagai industri dengan nama Lintasarta Cloudeka. Dengan memperkenalkan kembali layanan Cloud buatan anak negeri ini, Lintasarta berharap dapat membantu digitalisasi perusahaan-perusahaan dan start up agar bisnis menjadi lebih cepat dan dapat fokus terhadap bisnisnya masing-masing tanpa harus memusingkan urusan infrastruktur IT.

Untuk dapat bersaing dengan provider dari luar negeri, Arya mengatakan, Lintasarta mem-bundling paket yang dijual dengan segala macam jasa, seperti cloud-nya, data center, telekomunikasi, security, dan sumber daya manusia (SDM) yang akan dengan cepat dan tanggap melayani kebutuhan para pengguna layanan Lintasarta. Sebagai perusahaan yang ada di Indonesia, kehadiran SDM yang secara langsung terhubung dengan para pelanggan Lintasarta menjadi keunggulan tersendiri dibanding beberapa perusahaan di luar negeri karena para klien bisa bertemu dan bisa konsultasi secara langsung untuk mendapatkan solusi yang lebih cepat dan tepat.

“Jadi kita hadir sebagai solution company, bagaimana kita bisa memberikan solusi ini kepada pihak korporat sehingga mereka menjadi lebih efisien dan fokus ke bisnisnya sertabisa lari bersama-sama di era digitalisasi ini,” ujar Arya.

Tak hanya itu, Lintasarta juga mendorong perusahaan start up untuk menggunakan cloud. Menurut Arya, saat ini telah banyak talenta-talenta muda yang dapat di rangkul untuk bersama-sama menciptakan berbagai solusi industri untuk mendukung kebutuhan cloud korporat. “Kita juga melakukan kerja sama dengan beberapa universitas untuk mereka bikin start up. Mereka letakkan solusinya di cloud kami, terus kita pasarkan bersama-sama, karena kita ingin mendorong anak-anak Indonesia menunjukan kemampuannya, dan kita bantu infrastruktur dan pemasarannya,” ujar Arya.

Kerja sama dengan universitas ini juga secara tak langsung akan menumbuhkan SDM baru di dunia digital. Pasalnya, Indonesia membutuhkan sangat banyak SDM di sektor digital.

“Hal itu bisa dimulai dari SMK dengan menggali dan memperbanyak talenta digital di dalamnya. Kalau tidak, kita tidak akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Apalagi, pembangunan infrastruktur komunikasi tidak akan pernah selesai karena kebutuhan akan komunikasi akan terus bertambah,” tutup Arya.

Dari sisi SDM, sejak tahun 2020 Lintasarta telah membuka sejumlah beasiswa untuk melahirkan talenta digital melalui program Lintasarta Digischool yang merupakan bagian dari CSR Lintasarta Mengajar. Sementara itu, sebelumnya Lintasarta telah menggandeng beberapa Universitas di Indonesia dalam pelaksanaan program LintasartaAppcelerate yang diselenggarakan sejak tahun 2016. Lintasarta Appcelerate adalah ajang pembuatan rencana bisnis dalam bentuk inovasi produk atau aplikasi digital, seperti mobile application, yang memiliki nilai bisnis dan dapat diterapkan untuk mendukung berbagai sektor industri financial, smart city, manufacture, dan e-health.

Lintasarta menyadari kualitas dan kuantitas SDM menjadi kunci Indonesia menghadapi era digital saat ini. Industri 4.0 yang bertumpu pada perkembangan teknologi mengharuskan bangsa ini mempersiapkan terbangunnya SDM handal.

Selanjutnya: Dirut Garuda (GIAA): Putusan PKPU membuka jalan percepatan pemulihan kinerja


Reporter: Tim KONTAN
Editor: indah sulistyorini

TERBARU
Kontan Academy
Bongkar Rahasia Banjir Order dari Digital Marketing #TanpaIklan, #TanpaCoding, #PraktekLangsung NEGOSIASI & MEDIASI PENAGIHAN Batch 2

×