kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,20   -16,32   -1.74%
  • EMAS1.345.000 0,75%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%
ADV /

Laporan Ericsson: Investasi Teknologi, Faktor Kunci Perusahaan Siap Hadapi Disrupsi


Rabu, 21 Desember 2022 / 13:17 WIB
Laporan Ericsson: Investasi Teknologi, Faktor Kunci Perusahaan Siap Hadapi Disrupsi

KONTAN.CO.ID - Perusahaan telekomunikasi terkemuka global, Ericsson (kode saham di NASDAQ: ERIC), mengeluarkan laporan riset terbarunya bertajuk “Future of Enterprise” pada 12 Desember 2022. Ericsson menyoroti perusahaan yang kini mulai proaktif dalam menghadapi disrupsi ekonomi dan lingkungan. Berdasarkan data dalam laporan tersebut, sebanyak 42 persen pengambil keputusan perusahaan percaya akan menghadapi disrupsi yang disebabkan oleh perubahan iklim dalam waktu dekat.

Mereka yakin, banyak kejadian tidak terduga yang membuat perusahaan harus lebih proaktif dan inovatif mengambil solusi untuk mengurangi efek perubahan iklim, seperti pandemi dan krisis energi. Pengambil keputusan perusahaan juga menyadari bahwa entitas bisnis perlu bertanggung jawab menyelesaikan berbagai permasalahan tersebut. Menurut Ericsson, solusi yang dibutuhkan saat ini tidak hanya bersandar pada strategi reaktif, tapi juga perencanaan resiliensi jangka panjang dan berorientasi pada pemulihan.

Laporan Future of Enterprise juga menunjukkan sebanyak 52 persen pengambil keputusan perusahaan di Indonesia percaya dengan disrupsi tersebut. Bahkan, sebagai wujud aksi mengurangi disrupsi tersebut, sebanyak 63 persen mengaku telah memiliki strategi untuk menangani peristiwa disrupsi. Kabar baiknya, sebanyak 70 persen karyawan menyatakan sudah berkolaborasi dengan mitra bisnis sebagai solusi menangani disrupsi global.

Digitalisasi dan otomatisasi menjadi faktor penting dalam persiapan perusahaan menghadapi disrupsi. Sebanyak 81 persen perusahaan yang memiliki strategi resiliensi yang terdefinisi dengan baik telah terbukti menaruh investasi di bidang ini. Berdasarkan laporan riset tersebut, Ericsson menilai perusahaan harus memahami nilai resiliensi dengan berfokus pada aksi proaktif alih-alih hanya merespons dengan reaktif.

Head of Ericsson Indonesia Jerry Soper menjelaskan, sebanyak 60 persen pengambil keputusan perusahaan di Indonesia mengaku memiliki strategi untuk menangani disrupsi. Namun, ia mencatat, dengan digitalisasi perusahaan akan menjadi lebih tangguh menghadapi disrupsi. ”Kesiapan teknologi penting bagi perusahaan di Indonesia agar tangguh. Inovasi, digitalisasi, manajemen risiko proaktif, dan kelestarian lingkungan akan memungkinkan perusahaan menjadi lebih tangguh,” kata Jerry.

Menurut temuan Ericsson, terdapat dua perubahan utama dalam strategi resiliensi di masa depan. Pertama, pergeseran resiliensi berbasis pengulangan jangka pendek ke resiliensi berbasis efisiensi jangka panjang yang berkelanjutan secara lingkungan.

Kedua, resiliensi berorientasi pada pemulihan yang perlu ditransformasikan menjadi model bisnis yang proaktif. Saat ini, 91 persen pembuat keputusan perusahaan mengatakan, proaktif menjadi bagian dari strategi resiliensi perusahaan.

Senior Researcher Ericsson Consumer & IndustryLab Patrik Hedlund mengutarakan, saat ini adalah momen tepat untuk mengatur strategi resiliensi karena mampu meningkatkan nilai kompetitif dan keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang. Menurutnya, resiliensi jangka panjang lebih berdampak positif untuk lingkungan dan model bisnis.

“Perang, krisis energi, bencana alam, dan pandemi membuat dunia menjadi semakin kompleks. Sekarang adalah waktu untuk mengadopsi strategi resiliensi. Hal ini sangat penting bagi perusahaan jika mereka ingin tetap kompetitif dan berkelanjutan dalam jangka panjang,” kata Patrik.

Dukungan Ericsson

Head of Ericsson Indonesia Jerry Soper optimis Ericsson mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat dan pelaku bisnis Indonesia lewat pengembangan teknologi komunikasi. Terlebih hampir 70 persen karyawan di Indonesia optimis jaringan 5G akan menjadi platform inovasi untuk pekerjaan mereka.

Digitalisasi yang dipercepat oleh perusahaan akan memungkinkan ekonomi Indonesia bertransformasi menjadi ekonomi digital. “Ericsson juga akan terus menghadirkan jaringan dengan solusi teknologi hemat energi terbaru untuk mengurangi jejak karbon sekaligus mendukung pembangunan dan pemulihan ekonomi Tanah Air,” tambah Jerry.

Dengan populasi pengguna 5G yang semakin tinggi, tentu akan menambah potensi pembangunan infrastruktur telekomunikasi menjadi lebih cepat. Sehingga mempercepat aksi proaktif perusahaan dalam mengambil solusi atas permasalah disrupsi global.

Executive Vice President and Head of Networks Ericsson Fredrik Jejdling menjelaskan, communication service provider (CSP) akan terus menerapkan 5G yang berdampak pada kinerja perusahaan. Menurutnya, penyedia layanan kini mengambil langkah untuk membangun infrastruktur perangkat keras dan lunak yang hemat energi, sehingga berdampak positif untuk keberlanjutan.

“Penyedia layanan kini mengambil tindakan untuk menyebarkan perangkat keras dan perangkat lunak dari radio hemat energi generasi terbaru, meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan, serta mengoperasikan infrastruktur lokasi secara cerdas untuk mengurangi dampak lingkungan,” kata Fredrik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Reporter: Adv Team
Editor: Indah Sulistyorini

TERBARU

×