kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45998,26   9,51   0.96%
  • EMAS944.000 -0,42%
  • RD.SAHAM -0.06%
  • RD.CAMPURAN -0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.32%
ADV / ADV

Jangan Telat, Ayo Buru Cuan Jelang Akhir Tahun!


Rabu, 02 Desember 2020 / 19:46 WIB
Jangan Telat, Ayo Buru Cuan Jelang Akhir Tahun!

Akhir tahun seperti saat ini, biasanya menjadi masa yang paling ditunggu para investor. Mereka akan memburu aksi emiten yang seringkali memoles kinerjanya pada kuartal keempat atau yang lebih terkenal dengan aksi window dressing. Pada penghujung tahun pula, biasanya juga terjadi efek Santa Claus Rally yang mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Begitu pula pada tahun ini. Meski pandemi Covid-19 masih menimbulkan keraguan, namun para investor tetap memanfaatkan kesempatan ini.  Kondisi ini terlihat dari IHSG yang terus mendaki meski perlahan dalam beberapa hari terakhir ini.

Kepercayaan investor mulai tumbuh seiring dengan banyaknya proyeksi pertumbuhan positif untuk tahun depan. Ekonom INDEF Bima Yudhistira pun menaruh harapan positif tahun depan. “Tahun 2021 adalah dengan recovery, mulai tumbuh pada kisaran 2,5%-3%,” cetusnya dalam Webinar Outlook 2021 Proyeksi Investasi Pasca Covid-19 yang digelar KONTAN, Succor Asset Management dan Commonwealth Bank, minggu lalu.    

Sinyal adanya pemulihan pun sudah terlihat di beberapa negara, baik negara maju dan berkembang di kawasan Asia. Di Indonesia sendiri terlihat dari indeks PMI manufaktur yang sudah mulai berkonstraksi dan terus naik . Pada kuartal ketiga menunjuk pada angka 44,9%. “Harapannya di tahun 2021 sudah lebih dari 50%, artinya industri manufaktur sudah percaya diri melakukan ekspansi,” tutur Bima.

 Progres perkembangan vaksin sejauh ini juga menjadi stimulus yang mendorong kepercayaan konsumen. Beberapa perusahaan produsen vaksin sudah mampu menunjukkan efektifitas vaksin. Seperti vaksin Moderna yang menunjukkan tingkat efektivitas 94,5% dan Pfizer 90%.  Ini semakin menguatkan keyakinan vaksin akan gencar didistribusikan pada 2021. Pasar pun sudah terlihat kembali bergariah dan berhasil menarik kembali dana asing ke negara-negara berkembang.

Kepercayaan investor juga akan didukung oleh Omnimbus Law. Jemmy Paul W, CEO Succor Asset Management mengatakan, perundangan ini akan menjadi katalis positif. “Karena dengan adanya Omnimbus Law diprediksi akan ada peningkatan aliran FDI, kenaikan laba bersih dari insentif pajak dan pemangkasan pajak deviden. Ini sangat berpengaruh positif kepada IHSG,” jelasnya.

Yang menjadi peluang saat ini, lanjut Jemmy, valuasi IHSG cukup menarik. “Jadi, ada beberapa saham yang valuasinya murah dan prospek earning recovery tahun depan. Masih ada upside dan rally di pasar modal tahun depan,” cetusnya.

Jemmy pun optimis dengan adanya sejumlah katalis positif ini, mata target IHSG pada kisaran 5.600 – 5.700 pada akhir ini akan tercapai. Tahun depan, Jemmy pun memprediksi kenaikan 10%.

Enam tips dan triks

Nah, jika Anda siap untuk berinvestasi jangan lupa simak tips dan triks untuk memilih investasi paska Covid-19 ini. Ivan Kusuma, SVP, Head of Investment and Liabilities Business Bank Commonwealth pun membagikan enam panduan yang harus Anda lewati sebelum menentukan produk investasi yang benar-benar tepat bagi Anda.

Mulai dari mengenali profil risiko. Profil risiko nasabah terbagi menjadi enam, yakni mulai dari defensive dengan risiko kecil yang otomatis return investasi juga kecil, hingga high growth bagi nasabah yang bisa menahan volatilitas untuk mendapatkan return yang besar. Profil risiko ini bisa diketahui lewat kuesioner yang mengeksplore pengetahuan dan pengalaman nasabah.

Kemudian, Anda harus menentukan tujuan investasi. Untuk jangka panjang, produk investasi berbasis saham bisa menjadi pilihan yang tepat karena bisa memberikan return yang tinggi.

Setelah itu, tentukan investment vehicle. Apakah mau aset berbasis saham, obligasi atau pasar uang? Ivan mengatakan, aset ini nanti ditentukan dari situasi pasar dan profil risiko dari masing-masing nasabah. Selain itu, jangan lupakan risk reward dari suatu produk. “Karena industri investasi, khususnya reksadana ada dalam pengawasan OJK dan diawasi secara ketat,” terang Ivan.

Logika sederhana dalam memilih produk investasi, supaya terhindar dari produk bodong, juga harus dipakai. Pendekatannya melalui legal dan logis. Nasabah harus melihat legalitas produk investasi dan gunakan pemikiran logis untuk menilai produk tersebut masih wajar imbal hasilnya.

Selanjutnya, lakukan diversifikasi produk dengan mengambil kelas aset yang berbeda. Tujuannya, supaya porto folio investasi lebih seimbang sehingga imbal hasil optimal. Jadi, seperti ada bantalan ketika terjadi volatilitas di pasar.

Terakhir, lakukan monitoring berkala. “Kami mengadakan review sekali setahun untuk melihat porto folio nasabah, apakah masih sesuai dengan profil risiko dan pasar yang akan datang,” jelas Ivan.

Melihat ada sentiment positif pada IHSG, Jemmy pun member saran untuk mulai mengoleksi secara bertahap produk reksadana berbasis saham Sucorinvest Equity Fund. “Ini untuk profil risiko agresif,” ujarnya. Sementara, nasabah dengan profil konservatif atau defensive,  reksadana Sucorinvest Money Market Fund bisa menjadi pilihan.

Ayo investasi!


Reporter: Adv Team
Editor: indah sulistyorini
Tag

TERBARU
Certified Supply Chain Analyst (CSCA) Batch 7 Financial Modeling Fundamental

×