kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   -15.000   -0,58%
  • USD/IDR 17.909   23,00   0,13%
  • IDX 6.118   -28,57   -0,46%
  • KOMPAS100 788   -4,00   -0,51%
  • LQ45 604   -1,66   -0,27%
  • ISSI 214   -1,06   -0,50%
  • IDX30 336   -0,15   -0,05%
  • IDXHIDIV20 430   -0,35   -0,08%
  • IDX80 90   -0,42   -0,47%
  • IDXV30 117   0,04   0,03%
  • IDXQ30 110   -0,03   -0,03%
ADV / ADV

Era AI Datangkan Investasi di Kawasan, Indonesia Dilirik untuk Pusat Data


Kamis, 08 Oktober 2026 / 10:18 WIB
Diperbarui Kamis, 08 Oktober 2026 / 10:28 WIB
Era AI Datangkan Investasi di Kawasan, Indonesia Dilirik untuk Pusat Data
ILUSTRASI. Dok. Istimewa

KONTAN.CO.ID - JAKARTA – Indonesia memiliki ambisi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8%. Sejalan dengan target tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melihat pembangunan infrastruktur digital, termasuk data center, memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Digital menekankan pentingnya Indonesia mengambil bagian dalam perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) global, termasuk dengan memperkuat kapasitas dan infrastruktur digital di dalam negeri.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan penguatan infrastruktur AI dan kapasitas komputasi diperlukan agar Indonesia dapat mengambil posisi lebih strategis dalam rantai nilai industri teknologi global.

“Kita tidak ingin hanya menjadi pasar atau pengguna. Kita ingin memperoleh posisi strategis dalam rantai nilai industri AI global,” kata Nezar.

Setiap aktivitas digital menghasilkan data dalam skala besar, baik dari transaksi perbankan dan e-commerce, penggunaan berbagai layanan digital, maupun operasional bisnis. Namun, data tersebut belum otomatis memiliki nilai ekonomi.

Agar dapat menghasilkan manfaat, data perlu disimpan, diproses, dianalisis, dan diakses melalui infrastruktur komputasi yang memadai. Karena itu, data center memegang peran penting dalam mengubah data menjadi sumber nilai dan pertumbuhan ekonomi.

Ketersediaan data center memungkinkan berbagai layanan seperti cloud computing, fintech, e-commerce, AI, keamanan siber, layanan pemerintahan digital, hingga berbagai bisnis berbasis teknologi beroperasi dalam skala besar.

Besarnya kebutuhan tersebut mulai menarik investasi dalam jumlah besar.

Pemerintah mencatat terdapat minat investasi tambahan sekitar 1,3 GW kapasitas data center di Indonesia dengan nilai mencapai US$15 miliar hingga US$20 miliar.

Dampak ekonominya tidak hanya berasal dari pembangunan fasilitas data center. Investasi tersebut juga menciptakan kebutuhan terhadap sektor konstruksi, energi, jaringan telekomunikasi, teknologi, pemeliharaan, hingga tenaga kerja dengan keterampilan khusus.

Dengan demikian, pembangunan data center berpotensi menggerakkan rantai pasok yang lebih luas sekaligus memperbesar aktivitas ekonomi dan basis penerimaan negara.

Investasi Amazon Web Services (AWS) senilai lebih dari US$4 miliar untuk membangun tiga data center di Chile diperkirakan pemerintah setempat dapat memberikan kontribusi sekitar US$10 miliar terhadap produk domestik bruto (GDP) dan menciptakan lebih dari 7.000 lapangan kerja penuh waktu setiap tahunnya.

Pengalaman Chile memberikan gambaran bahwa pembangunan data center dapat membawa dampak ekonomi yang lebih luas, tidak hanya melalui pembangunan infrastruktur digital, tetapi juga melalui penciptaan lapangan kerja dan kontribusi terhadap perekonomian.

Dengan demikian, nilai investasi data center tidak semata-mata dapat dilihat dari kapasitas komputasi yang dibangun, tetapi juga dari dampak ekonomi yang tercipta di sekitarnya.

Persaingan di kawasan

Data Bank Dunia pada semester pertama 2025 mencatat kapasitas data center Indonesia sekitar 1,17 GW. Angka tersebut masih di bawah Malaysia yang mencapai 3,17 GW dan Singapura sekitar 1,25 GW.

Meski demikian, Indonesia memiliki prospek pertumbuhan yang cukup besar. CSIS Indonesia memperkirakan kapasitas data center Indonesia dapat tumbuh rata-rata 16,8 persen per tahun hingga 2029, sehingga mencapai sekitar 1,41 GW.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh besarnya pasar digital domestik, meningkatnya kebutuhan cloud dan AI, serta masuknya investasi baru ke sektor infrastruktur digital.

Namun, peningkatan kapasitas saja tidak cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam ekonomi AI.

Pasar digital yang besar tidak otomatis membuat sebuah negara menjadi pemenang. Kemampuan mengembangkan teknologi, mengolah data, menghasilkan produk digital, dan menciptakan layanan bernilai tambah menjadi faktor yang tidak kalah penting.

Di balik peluang investasi yang besar, pembangunan data center juga menghadirkan tantangan, terutama terkait kebutuhan energi dan air.

Data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar untuk menjalankan server dan sistem pendukungnya. Kebutuhan tersebut semakin meningkat seiring berkembangnya komputasi AI yang membutuhkan kapasitas pemrosesan tinggi.

Selain listrik, kebutuhan air juga perlu diperhitungkan, terutama pada fasilitas yang menggunakan teknologi pendingin berbasis air.

Peneliti ITB Prof. Reini D. Wirahadikusumah mengatakan kebutuhan energi akan menjadi salah satu aspek penting dalam perkembangan AI.

“Energi dan teknologi Artificial Intelligence (AI) akan menjadi pilar penting dalam pembangunan. Bahkan AI sendiri membutuhkan energi yang sangat besar untuk dioperasikan,” ujarnya.

Karena itu, pembangunan data center perlu dibarengi dengan strategi penyediaan energi yang cukup, efisien, dan berkelanjutan.

Indonesia memiliki sejumlah modal untuk memperkuat posisi dalam industri data center dan AI, mulai dari pasar digital yang besar, kebutuhan komputasi yang terus meningkat, hingga potensi sumber daya energi.

Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan investasi yang masuk tidak berhenti pada pembangunan gedung dan fasilitas server.

Pengembangan ekosistem data center perlu diarahkan untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi ekonomi nasional. Hal tersebut dapat dilakukan melalui penguatan tenaga kerja digital, pengembangan perusahaan teknologi lokal, peningkatan kemampuan riset dan AI, pemanfaatan energi terbarukan, serta pengembangan industri pendukung.

Dengan pendekatan tersebut, pembangunan data center bukan hanya menjadi perlombaan membangun kapasitas komputasi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi Indonesia untuk meningkatkan daya saing ekonomi digital dan mengambil posisi lebih kuat dalam rantai nilai AI global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Reporter: Adv Team
Editor: Indah Sulistyorini

TERBARU
Terpopuler
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

×