kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45944,39   -5,10   -0.54%
  • EMAS926.000 -0,32%
  • RD.SAHAM 0.35%
  • RD.CAMPURAN 0.29%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.05%
ADV /

Disiplin terapkan 5M & 3T guna cegah berulangnya kelangkaan oksigen


Kamis, 18 November 2021 / 09:43 WIB
Disiplin terapkan 5M & 3T guna cegah berulangnya kelangkaan oksigen

KONTAN.CO.ID - Ledakan kasus Covid-19 medio Juni-Juli lalu, menyebabkan kebutuhan oksigen medis melonjak. Peningkatan angka penularan Covid-19 membuat jumlah pasien di berbagai rumah sakit dan puskesmas naik tajam pada periode waktu tersebut. Imbasnya, rumah sakit pun kewalahan menyediakan fasilitas oksigen medis.

Dampaknya, pasien tidak mendapatkan perawatan secara maksimal. Layanan kesehatan di rumah sakit juga ikut terganggu. “Ini menyebabkan antrian untuk masuk ke ruang perawatan makan waktu lama,” kenang Eira Jose, seorang warga yang saat itu mengantar kerabatnya ke rumah sakit lantaran kondisi yang memburuk.

Jose pun melihat kelangkaan oksigen medis terjadi di berbagai tempat. “Naiknya kasus penularan Covid-19 mendorong kebutuhan oksigen medis sangat tinggi, karena oksigen ini sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang terpapar dengan gejala sedang dan berat serta memiliki penyakit bawaan,” terang Jose pada Focus Group Discussion (FGD) Aksesibilitas Oksigen Medis yang digelar Kontan dan Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) beberapa saat lalu. .

Sementara, mencari oksigen medis secara mandiri juga tak memungkinkan. Selain banyak orang panik hingga tabung oksigen menjadi langka, pengisian tabung secara mandiri juga sangat sulit. Antrian sangat panjang sering ditemui di depo-depo pengisian oksigen medis. “Butuh waktu berjam-jam untuk mengantri saat itu,” kata Jose.  

Inilah satu dari sekian dampak bila kita lalai dalam menyikapi pandemi. Bentuk kelalaian itu adalah kurang disiplinnya penerapan protokol kesehatan 5M (mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas) dan 3T (testing, tracing, treatment) hingga menyebabkan naiknya kasus penularan Covid-19 di Indonesia.

Sebab, dalam penilaian Syarif Rohimi, Dokter Jantung Anak dari RSAB Harapan Kita, sulitnya aksesibilitas terhadap oksigen medis lantaran angka penularan Covid-19 yang sangat tinggi di Indonesia saat itu. “Di tubuh, virus Covid-19 menyebar secara cepat, sehingga pada banyak kasus menyebabkan gangguan fungsi paru-paru hingga pertukaran oksigen terganggu terutama pada pasien dengan gejala sedang dan berat,” jelas dia.

Oleh karena itu, sebagai langkah pencegahan atau preventif yang bisa dilakukan untuk mensiasati kemungkinan terjadinya kelangkaan oksigen medis adalah penerapan protokol kesehatan secara ketat. “Jika protokol kesehatan ini dijalankan dengan konsisten dan kontinyu, maka angka penularan dapat ditekan, sehingga ketergantungan kepada oksigen bisa dikurangi,” tegas Syarif.

Selain itu, menyediakan oksigen medis di rumah memang lebih baik. Namun, jika terjadi gejala berat,  seperti tingkat saturasi yang rendah dan jumlah nafas lebih dari 30 kali dalam satu menit atau nafasnya kembang-kempis, Syarif tetap menyarankan perawatan di rumah sakit.

“Karena selain oksigen, pengawasan dari dokter dan pemberian obat-obatan yang tepat juga sangat dibutuhkan. Apalagi jika yang terpapar anak-anak, maka perawatan dari dokter sangat diperlukan,” jelasnya.

Jika ingin mengetahui lebih banyak soal oksigen medis ini, Anda bisa menyaksikan FGD ini secara utuh di kanal Kontan TV.

Selanjutnya: Depo Bangunan patok harga penawaran Rp 482 per saham, incar dana IPO Rp 493,57 miliar


Reporter: Adv Team
Editor: indah sulistyorini
Tag

TERBARU

×