kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45790,50   -3,71   -0.47%
  • EMAS996.000 0,40%
  • RD.SAHAM 0.22%
  • RD.CAMPURAN 0.09%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.23%
ADV /

Biar Pandemi, Tetap Harus Investasi


Minggu, 20 September 2020 / 19:25 WIB
Biar Pandemi, Tetap Harus Investasi

Pandemi Covid-19 masih menghantui Indonesia. Meski belum terlihat jelas kapan berakhir,  namun banyak pendapat menyatakan wabah corona virus disease ini baru akan selesai setelah vaksin disuntikkan ke manusia.

Tapi, ada secercah harapan pun nampak ketika penemuan vaksin menunjukkan arah perkembangan yang positif. Artinya, ada asa untuk kita bisa kembali menjalani kehidupan secara normal, hingga mampu mengembalikan kondisi ekonomi yang beberapa bulan ini terpuruk.

Kendati keberadaan vaksin secara massal masih membutuhkan waktu hingga pertengahan 2021, seharusnya tak menyurutkan langkah investor untuk terus berinvestasi. Optimisme akan kondisi ekonomi yang terus membaik mulai tergambar dalam beberapa bulan ini.

Untuk menangkal dampak ekonomi yang lebih parah, pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan fiskal dan moneter, serta menggelontorkan berbagai stimulus. “Di Indonesia keadaannya jauh lebih manageable, dengan memberikan stimulus dan kemudahan untuk berbisnis dan mengangkat daya beli,” jelas Arief Wana, Direktur PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk, dalam Webinar Ngovistasi berjudul Menata Investasi Jelang Recovery yang diselenggarakan KONTAN, Bank Commonwealth dan Ashmore, Kamis (17/9).

Di lain pihak, perusahaan-perusahaan ternyata mampu bertahan dengan kondisi keuangan yang kuat. Selain itu, manajemen juga menunjukkan kelihaiannya dalam berefisiensi dan berinovasi. Meski ada penurunan penjualan, namun tingkat penurunannya ternyata tak seperti ekspektasi sebelumnya. “Turunnya sekitar 35% kuartal kedua ini, jauh lebih baik dari ekspektasi dibawah 50%,” kata Arief.

Sejumlah perusahaan juga masih punya kekuatan modal lantaran tak punya utang dan uang kas yang cukup tebal. “Perusahaan-perusahaan seperti ini yang sahamnya layak dikoleksi karena akan menjadi pemenang,” tutur Arief. 

Hembusan angin optimisme juga ditunjukkan oleh konsumsi yang menunjukkan peningkatan. Yang terbaru, sudah terlihat adanya kenaikan penjualan mobil wholesales (pengiriman unit dari pabrik ke dealer) pada Juli yang mencapai 25.283 unit dari bulan sebelumnya 12.623 unit atau naik 103% Sementara penjualan Agustus naik menjadi 37.277 unit. Untuk penjualan mobil ritel (dari dealer ke konsumen) juga mengalami peningkatan pada Juni sebesar 74% menjadi 29.862 unit. Kemudian pada Juli, tumbuh menjadi 35.799 unit atau naik 20%. Sementara penjualan Agustus naik menjadi 37.655 unit. Angka ini meningkat 29% dibanding bulan sebelumnya

Begitu juga dengan transaksi kartu kredit. “Data Bank Indonesia menunjukkan, sepanjang paruh pertama 2020, nilainya sudah mencapai 37% dari outstanding sepanjang 2019. Jadi enggak beda jauh,” papar Ivan Jaya, EVP, Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth. Kondisi ini bisa menjadi petunjuk bahwa perekonomian di masyarakat sudah lebih baik dari saat awal-awal Covid-19 mengguncang.

 

Optimisme global

Tak berbeda jauh, optimisme juga terlihat dari kondisi global. Sama seperti Indonesia, pemerintah negara-negara lainnya juga berupaya terus menjaga pertumbuhan ekonominya dengan berbagai kebijakan dan stimulus untuk menopang daya beli.

Pemulihan ekonomi di beberapa negara, seperti Cina dan Vietnam juga terjadi jauh lebih cepat dari perkiraan pasar. Kondisi inilah yang mendorong harga komoditi sangat baik, karena permintaan tetap berdatangan dari negara-negara yang pulih dengan cepat.

Sejauh ini, pengaruh global yang perlu dicermati adalah Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS). Dari dua kandidat yakni Donald Trump dan Joe Biden, masing-masing mendatangkan pengaruh bagi perekonomian global. Namun, menurut Arief, kemenangan salah satu kandidat tak mempengaruhi tren penurunan mata uang dollar AS. “Bagaimana pun mereka harus membiarkan dollar AS melemah, karena ekonomi Amerika juga tergantung terhadap luar,” terang Arief.

Arief pun memprediksi mata uang negeri Paman Sam itu akan terus melemah dua hingga tiga tahun ke depan. Dan, situasi ini justru menguntungkan negara-negara lain untuk bisa pulih jauh lebih cepat dari AS.

Disiplin berinvestasi

Lantas, di kondisi seperti ini, apakah investor tetap harus berinvestasi? Tak ada kata menunggu. Apapun kondisinya akan menjadi sebuah peluang untuk mendatangkan cuan.

Apalagi, saat-saat seperti ini adalah kondisi langka yang sangat jarang terjadi. “Hampir semua instrumen investasi layak dikoleksi atau valuasinya rendah,” cetus Ivan.

Yang penting, investor harus menyesuaikan profil dan tujuan investasinya. Jangan terlalu gegabah, tapi perlu mengukur risikonya juga.

Ivan pun membagikan skema investasi bagi investor dengan profil risiko konservatif, seimbang dan agresif. Untuk konservatif, porsi investasinya bisa dipecah dalam reksa dana pasar uang 60%, reksa dana pendapatan tetap 35% dan reksa dana saham 5%.

Sedangkan untuk profil risiko seimbang, ia menyarankan untuk memperbesar porsi reksa dana saham menjadi 30%. Sisanya dibagi antara reksa dana pendapatan tetap/obligasi dan reksa dana pasar uang/deposito masing-masing sebesar 35%.

Terakhir, investor yang agresif sebaiknya mengalokasikan aset lebih banyak ke reksa  dana saham.Yakni bisa mencapai 60% dari total aset.

Menurut pendapat Arief, di pasar Indonesia, kedisiplinan juga menjadi kunci dalam berinvestasi. Yakni dengan tetap berinvestasi meski kondisi pasar sedang tidak baik. “Masuknya enggak langsung 50%, tapi 10% atau 5% saat ada penurunan lagi. Sebaliknya, saat pasar baik sekali, ambil profit!,” ujarnya.

Untuk memudahkan nasabah berinvestasi, Bank Commonwealth Bank menyediakan kanal-kanal digital di antaranya adalah aplikasi CommBank SmartWealth. Alhasil, nasabah bisa dengan cepat melakukan transaksi maupun memonitor hasil investasinya. Jaman memang sudah berubah, biarpun di rumah saja, tetap bisa menata portofolio dan berinvestasi. ***


Reporter: Adv Team
Editor: indah sulistyorini
Tag

TERBARU

×